TEKNISI IT DIPECAT SETELAH MELAPORKAN KASUS PORNOGRAFI ANAK

Tahun 2002, Dorotha Perry, seorang karyawan Collegis, sebuah perusahaan outsourcing IT yang menangani software – software yang digunakan di sekolah dan universitas, setiap harinya ia bekerja pada New York Law School sebuah sekolah hukum di New York sebagai IT Help desk. Pada minggu sore di bulan juni 2002, perry mendapatkan pesan suara dari Dr. Edward Samuels. Dr. Edward Samuels adalah professor yang sangat dihargai dan telah berkarier seperempat abad di sekolah tersebut. Dr. Edward meninta perry untuk melakukan pengecekan terhadap komputernya yang diindikasi terkena virus. Perry kemudian mensyaratkan untuk mengosongkan ruangan Dr. Edward pada saat proses maintenance komputer dilakukan. Perry selanjutnya meminta Robert Gross (partnernya yang juga berasal dari Collegis) untuk mengecek pada hari senin keesokan harinya. Pada saat gross pertama kali melakukan pengecekan, dia tidak berhasil memperbaiki kerusakan pada komputer Dr. Edward, sehingga perry dan gross kemudian mengikuti SOP yang berlaku, yakni meminjamkan komputer sementara bagi Dr. Edward selama komputernya diperbaiki.

SOP yang berlaku juga mengharuskan perry dan gross untuk melakukan backup data dari computer Dr. Edward ke komputer yang dipinjamkan. Dalam proses transfer data, perry dan gross menemukan lebih dari 2 lusin foto wanita muda tanpa busana dan sebagian menampilkan pose yang provokatif. Perry dengan segera melaporkan penemuan ini ke Fred DeJohn direktur eksekutif Collegis, perusahaan outsourcing tempat dia bekerja, yang berwenang untuk menyampaikan ke pihak sekolah. DeJohn bertemu dekan Richard Matasar  3 hari kemudian untuk membicarakan masalah tersebut dan menentukan langkah selanjutnya yang harus dilakukan.

New York Law School mencari nasihat dari penasihat, memberitahu pihak berwenang, dan bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan kasus ini. Sebuah pencarian berikutnya dilakukan di apartemen Dr. Edward oleh Kepolisian New York menemukan lebih dari 100.000 foto serupa banyak dari foto tersebut melibatkan perempuan dibawah umur. Atas saran dari jaksa wilayah, Dekan Matasar tidak menyampaikan temuan penyidik kepada Dr Edward.

Setelah penyelidikan, Dr Edward ditangkap pada bulan Agustus 2002 Dekan Matasar mengirim e-mail ke seluruh staf dan mahasiswa, yang berisi: “Saya sedih untuk melaporkan kepada Anda bahwa Saya belajar sore ini bahwa rekan kami, Profesor Edward Samuels, ditangkap atas tuduhan terkait untuk kepemilikan gambar porno anak dibawah umur. Kami telah menempatkan Profesor Edward pada cuti administratif sehingga ia dapat hadir untuk pembelaannya … Hati kita pergi ke Ed dan keluarganya, semoga mereka dapat menghadapi masa sulit ke depan”.

Beberapa staf pengajar dan senior di sekolah tersebut mengkritisi Dekaan Matasar yang menyerahkan foto – foto temuan ke pihak yang berwenang tanpa memberikan peringatan pertama kepada Dr. Edward. Ada yang menyatakan bahwa Dr. Edward telah melakukan kejahatan tanpa korban dan tidak ada bukti lain selain hanya melihat foto . Bahkan Dekan Matasar sendiri berkata, “Ketika tidak ada pembelian atau penjualan foto – foto ini, saya tidak tahu. Sebagai pengacara, saya ambivalen (dua pendapat yang bertentangan) pada masalah ini”.

Pada bulan April 2003, Edward mengaku bersalah atas 100 tuduhan memiliki foto pornografi anak. Hakim menerima 20 surat kesaksian mengungkapkan menghormati integritas Dr Edward sebagai professor dan menyatakan bahwa insiden itu tidak mempengaruhi rasa hormat mereka untuk profesionalismenya. Pada bulan Juni, Edward dihukum 6 bulan penjara dan 10 tahun masa percobaan.

Tidak lama setelah Perry dan Gross melaporkan penemuan foto, Perry dan Gross ditempatkan dalam masa percobaan dengan alasan kinerja. Pada bulan Oktober 2002, 4 bulan setelah penemuan, Gross dan Perry dipecat. Gross telah bekerja di  tersebut lebih dari setahun, dalam hasil evaluasinya 3 bulan sebelum insiden itu dia memperoleh nilai “sangat kompeten plus”. Sedangkan Perry yang telah bekerja di sekolah tersebut selama 12 tahun kinerja sebelumnya ialah “sangat baik”.

Dekan Matasar menyatakan bahwa ia telah meminta perusahaan Collegis untuk meningkatkan kualias help desk. Pemecatan Gross dan Perry kemungkinan besar diakibatkan oleh permintaan ini. Dekan Matasar mengaku menerima banyak keluhan dari mahasiswa dan staff terkait layanan yang buruk. Penghentian itu terjadi tidak lama sebelum perpanjangan kontrak jutaan dolar antara Collegis dengan sekolah.

Tom Huber, CEO Collegis, membela tindakan perusahaannya, memberikan alasan bahwa : “Pekerjaan para teknisi berakhir karena masalah yang sama sekali tidak terkait dengan insiden Dr. Edward. Hal tersebut semata – mata kebijakan Collegis untuk memperlakukan semua karyawan secara yang adil dan tidak memihak, Collegis tidak pernah akan memecat seorang karyawan karena melakukan hal yang benar. Karyawan kami diperintahkan dan diharapkan untuk menegakkan hukum dan untuk menegakkan kebijakan lembaga klien mereka melayani”.

Perry dan Gross mengklaim mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka mengajukan gugatan $15.000.000 kepada New York Law School dan perusahaan tempat mereka bekerja, Collegis, sebagai gugatan atas pemecatan.

Dalam gugatan mereka, keduanya berpendapat bahwa pornografi anak adalah bentuk pelecehan seksual yang melanggar hukum hak asasi manusia kota New York. Pengacara mereka menyatakan bahwa Perry dan Gross memiliki hak untuk bekerja ditempat yang bebas dari unsur merendahkan dan serangan pornografi. Pada bulan Oktober 2004, hakim menolak beberapa klaim dan memutuskan bahwa tindakan di New York Law School bukan merupakan pelecehan seksual bagi Perry dan Gross. Namun, hakim menyatakan : “Bahwa mereka dihentikan segera setelah mereka melaporkan menemukan kasus pornografi anak, dan meskipun terdapat catatan – catatan pekerjaan mereka yang cacat, menimbulkan pertanyaan besar, apakah para terdakwa dipecat karena melaporkan dugaan kegiatan kriminal professor”.

Pada oktober 2008, Divisi Banding Mahkamah Agung New York memutuskan bahwa pekerjaan Perry dengan Collegis adalah bisa dihentikan/akan dan bahwa Perry tidak memiliki klaim yang dapat dipertahankan bahwa New York Law School bertindak untuk tujuan tunggal merugikan dirinya.

(sumber : Ethics in Information Technology, Reynold)